Kepala Balai POM di Jambi Tekankan Peran Strategis Mahasiswa Farmasi dalam Pengendalian Resistensi Antimikroba

07-09-2026 Balai Besar/Balai POM Dilihat 43 kali

Jambi, 1 September 2026 – Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Jambi hadir sebagai narasumber pada Kuliah Umum bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA), Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi. Kegiatan yang berlangsung di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi tersebut mengangkat tema “Regulasi dan Pengawasan Antibiotik oleh BPOM dalam Menghadapi Antimicrobial Resistance (AMR)”. Materi kuliah pakar mencakup resistensi antimikroba, peran BPOM, strategi pengendalian AMR, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Kegiatan dibuka secara langsung oleh Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi, Humaryanto, dan diikuti oleh mahasiswa PSPPA. Kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman calon tenaga profesional di bidang kefarmasian mengenai tantangan resistensi antimikroba sekaligus memperkenalkan peran regulator dalam memastikan penggunaan antibiotik yang aman, bermutu, berkhasiat, dan sesuai ketentuan.

Dalam pemaparannya, Kepala Balai POM di Jambi, Agus Riyanto, menjelaskan bahwa Antimicrobial Resistance (AMR) merupakan kondisi ketika bakteri, virus, jamur, atau parasit tidak lagi merespons obat antimikroba sehingga infeksi menjadi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko komplikasi maupun kematian. Materi juga menyoroti sejumlah faktor pemicu AMR, antara lain peresepan yang tidak rasional, penggunaan antimikroba tanpa resep atau diagnosis yang jelas, penggunaan yang tidak sesuai ketentuan pada sektor manusia dan hewan, penggunaan produk substandar atau palsu, serta pembuangan antimikroba secara sembarangan.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pengendalian AMR tidak dapat dilakukan hanya dari sektor kesehatan manusia. Keterkaitan antara manusia, hewan, pangan, dan lingkungan membutuhkan penerapan pendekatan One Health. Dalam konteks tersebut, BPOM memiliki peran dalam pengawasan dari hulu hingga hilir, termasuk pengawasan mutu, keamanan dan khasiat antibiotik, pengawasan peredaran, monitoring residu antibiotik dan profil mikroba resisten pada berbagai komoditas pangan, serta penguatan edukasi dan koordinasi lintas sektor.

Kuliah umum juga menekankan pentingnya kolaborasi Academia, Government, dan Business (ABG) dalam menghadapi AMR. Perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui pelaksanaan Tri Dharma, riset dan pengembangan, edukasi masyarakat, serta penyediaan tenaga ahli. Pemerintah, termasuk BPOM, berperan dalam penyusunan kebijakan, pendampingan, pengawasan, sertifikasi, perizinan, dan koordinasi lintas sektor, sementara dunia usaha berperan dalam kepatuhan terhadap regulasi, dukungan riset, transfer teknologi, hingga hilirisasi inovasi.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa PSPPA Universitas Jambi diharapkan semakin memahami pentingnya penggunaan antibiotik secara bijak sekaligus mampu menjadi bagian dari agen perubahan dalam pengendalian AMR. Sinergi antara perguruan tinggi dan BPOM diharapkan terus diperkuat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melawan AMR bukan pilihan, melainkan tanggung jawab bersama, sehingga penggunaan antibiotik secara tepat saat ini menjadi bagian penting dalam menjaga efektivitas antibiotik dan kesehatan generasi mendatang.

Sarana